dari www.Suwur.com >> Dapatkan diskon langsung 10% untuk produk yang ready stok (klik disini), dan tambahan diskon 5% untuk reseller. (penawaran terbatas-)

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Tekstil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tekstil. Tampilkan semua postingan

Daya Serap dan kandungan uap air pada serat tekstil

Hampir semua serat dapat menyerap uap air sampai batas tertentu. Serat-serat yang dapat menyerap uap air lebih banyak digunakan. Serat yang higroskopis lebih enak dipakai. Serat yang sedikit menyerap uap air disebut hidrofob. Serat hidrofob dalam keadaan basah dan kering memiliki sifat yang sama, epat kering dan kecil mengkeretnya.
Kandungan uap air dalam serat tekstil dapat dinyatakan dalam:
- Moisture Content ( MC ) yaitu prosentase kandungan air terhadap serat dalam kondisi tertentu, dengan rumus:

MC = (Bn – Bk) / Bn x 100%


- Moisture Regain ( MR ) yaitu prosentase kandungan air terhadap berat
kering mutlak, dengan rumus:

MR = (Bn – Bk) / Bk x 100%


Dimana
Bn = berat nyata serat dalam suatu kondisi
Bk = berat kering mutlak serat


Tabel Kandungan Uap Air pada Serat Tekstil

Serat
Kandungan Air (%)
Wol
Rayon Vikosa
Sutera
Kapas
Flax
Asetat
Nilon
Poliester (Dakron)
Rayon (biasa)
Gelas
Orlon
Acrilan
15
11
11
8
12
6
4,5
0,4
13
0,0
1,5
1,5


Sifat – Sifat Kimia Serat tekstil

Proses-proses penyempurnaan tekstil banyak sekali menggunakan zat-zat kimia, baik berupa oksidator, reduktor, asam, basa, atau lainnya. Karena itu ketahanan terhadap banyak zat kimia pada serat tekstil merupakan suatu syarat yang penting. Ketahanan terhadap zat kimia atau kereaktifan kimia pada setiap jenis serat tergantung pada struktur kimia dan adanya gugus – gugus aktif pada molekul serat. Pelarut –pelarut untuk pencucian kimia, keringat, sabun, detergen, zat pengelantangan, gas dalam udara, cahaya matahari menyebabkan kerusakan secara kimia kepada hampir semua zat tekstil. Sifat kimia serat kapas: tahan terhadap penyimpanan, pengolahan dan pemakaian yang normal, kekuatan menurun oleh zat penghidrolisa karena terjadi hidro-selulosa mempunyai efek kilap, karena proses mersirasi, serat mudah diserang oleh jamur dan bakteri terutama dalam keadaan lembab dan pada suhu yang hangat.
Sifat kimia serat wol: tahan terhadap jamu dan bakteri tetapi bila wol telah rusak oleh zat kimia terutama alkali pada pH 8, wol mudah diserang serangga dan jamur yaitu kekuatan turun.
Sifat kimia serat sutera: tidak mudah rusak oleh larutan asam encer hangat, tapi larut dengan cepat didalam asam kuat. Sutera mudah diserang oleh oksidator, tahan terhadap jamur, serangga,dan bakteri. Pemanasan yang lama dalam air menyebabkan kilau dan kekuatan berkurang.
Sifat kimia rayon viskosa cepat rusak oleh asam, kekuatan berkurang oleh jamur. Paling sesuai diputihkan dengan natrium hipoklorit dalam suasana netrl. Sifat kimia nylon tahan terhadap pelarut – pelarut dalam pencucian kering. Tahan terhadap asam encer, tahan terhadap basa.
Sifat kimia poliester tahan asam, basa lemah tetapi kurang tahan basa basa kuat, tahan zat oksidator, alkohol, sabun, dan zat untuk pencucian kering. Tahan terhadap jamur, serangga dan bakteri.

Polimer Ditinjau dari segi kimia, serat tekstil tersusun dari molekul – molekul yang sangat besar. Polimer adalah molekul yang sangat besar yang tersusun dari ulangan unit – unit kimia kecil (monomer) yang sederhana. Serat tumbuh – tumbuhan seperti kaps, jute, rami, dan sebagainya tersusun atas molekul – molekul selulosa yang merupakan pengulangan sisa glukosa ( C6H12O6 ). Serat rayon adalah serat yang dibuat dengan cara regenarasi polimer – polimer selulosa yang diperoleh dari kayu atau sisa – sisa kapas pendek ( inters ), sedangkan serat buatan seperti poliester dan nylon tidak dibuat dari polimer alam, tetapi polimer yang dibuat dari senyawa kimia kecil dan sederhana yang dibuat monomer. Unit - unit kimia yang diulang dalam suatu polimer memiliki bentuk yang sama atau hampir sama dengan monomernya.
Pengulangan unit – unit tersebut dapat membentuk polimer linier, bercabang, atau jaringan.

Umpama :
Senyawa kimia asal ( monomer ) adalah A, unit yang berulang A’ dimana A’ hampir sama dengan A.
Maka:
Polimer Linier : - A’ - A’ - A’ - A’ - A’-
Polimer Cabang : -A’ – A’ – A’ – A’
A’
Polimer jaringan : -A’ – A’ –
A’ A’
A’


Bentuk Penampang Serat
Bentuk penampang lintang serat sangat bermacam – macam ada yang berbentuk bulat, lonjong, bergerigi, segitiga, pipih dan sebagainya. Untuk jenis yang sama, serat alam mempunyai penampang lintang yang sangat bervariasi, sedangkan serat – serat buatan untuk untuk jenis yang sama pada umumnya sama. Makin bulat penampang lintangnya, makin baik kilaunya dan makin lemas pegangannya, tetapi makin rendah daya penutupnya karena makin banyak ruang udara.

IDENTIFIKASI Serat dan Dasar–Dasar Serat Tekstil

Serat tekstil adalah suatu benda yang memiliki perbandingan antara panjang dan diameter sangat besar. Serat dapat digunakan sebagai serat tekstil harus memenuhi persyaratan diantaranya adalah panjang, fleksbilitas, dan kekuatan.
Serat tekstil merupakan bahan dasar pembuatan benang dengan cara dipintal, benang yang telah jadi kemudian ditenun menjadi kain dengan cara menganyam benang lusi dan pakan. Benang lusi adalah benang yang terletak kearah panjang kain , benang pakan adalah benang yang terletak kearah lebar kain.
Setelah menjadi kain masih banyak pekerjaan lain yang dilakukan terhadap kain tersebut untuk memperbaiki kualitas dan daya guna dari kain tersebut seperti diputihkan, dicelup, dicap, dan finishing. Pekerjaan ini disebut dengan penyempurnaan tekstil. Kadang – kadang penyemurnaan tekstil juga dilakukan pada benang.

Penggolongan Serat
Serat tekstil digolongkan atas serat alam dan serat buatan klasifikasi serat tekstil

Sifat Fisika Serat
1. Panjang Serat
Panjang serat yang digunakan untuk bahan tekstil lebih besar seribu kali dari diameternya. Perbandingan yang sangat besar memberikan sifat fleksibilitas (mudah dirubah bentuknya) sehingga memungkinkan untuk dapat dipintal.
Panjang serat ini juga menentukan nomor dan kehalusan benang yang dikendaki.
Pada umumnya bentuk panjang serat dapat dibedakan dalam ;
- stapel
- filamen
- tow,
- monofil
Stapel
Adalah serat-serat yang panjangnya hanya beberapa inchi ( 1 inchi = 2,54 cm ).
Serat alam pada umumnya panjangnya berbentuk stapel. Serat buatan diproduksi dalam bentuk stapel dengan cara memotong filamen menjadi stapel yang panjangnya 1 – 6 inchi.


Filamen
Adalah serat – serat yang sangat panjang ,misalnya serat sutera. Serat buatan mula-mula dibuat dalam bentuk filmen.
Tow
Adalah multi filamen yang terdiri dari puluhan atau ratusan ribu filamen dalam bentuk berkas seperti silver, kadang-kadang dengan antihan sedikit.
Monofil
Adalah monofilamen artinya satu filamen. Benang monofilamen adalah benang yang terdiri dari satu helai filamen.

2. Kekuatan Serat
3. Mulur dan Elastisitas serta tekstil
4. Daya Serap dan kandungan uap air pada serat tekstil


Kekuatan Serat tekstil



Kekuatan serat didefinisikan sebagai kemampuan serat menahan suatu tarikan/regangan. Kekuatan serat menrupakan faktor yang menunjang langsung kekuatan produksi akhir, baik berbentuk benang maupun dalam bentuk kain. jika sifat lainnya tetap maka makin kuat serat makin kuat benangnya/ kainnya. Serat yang kuat akan lebiih kaku, oleh karena itu kain yang mepunyai rabaan yang lembut disarankan untuk mengunakan serat yang kekuatannya sedang.
Pada umumnya dalam keadaan basah kekuatannya menjadi turun, tetapi serat sellulosa dalam keadaan basah kekuatannya naik.

Tabel Kekuatan Serat dalam Satuan Gram/Denier
Jenis Serat
Keadaan
Kering
Basah
Rami
Flex
Wol
Rayon
Asetat
Nylon
Dacron
Gelas
Orlon
Acrilan
3,8
6,7
6,6
1,3
4,5
1,7 – 5,0
1,1 – 1,5
8,8 – 4,3
7,5 – 4,5
6,4
2,5
2,7 – 2,0
4,8
8,7
8,4
0,8
3,9
1,0
0,8
7,4 –3,6
7,5 – 4,5
5,8
2,5
2,0


Disalin dari Buku Sekolah

Istilah-istilah dalam bidang batik dan tekstil


Serat : adalah benda yang memiliki perbandingan antara diameter dan panjang sangat besar
Benang : Susunan serat-serat yang teratur ke arah memanjang dengan diberi antihan.
Kain grey : Kain hasil pembuatan kain yang belum mengalami proses penyempurnaan
Benang lusi : Benang penyusun kain yang letaknya kearah panjang kain
Benang pakan : Benang penyusun kain yang letaknya kearah lebar kain
Work order : Penerimaan jenis barang untuk dilakukan proses
Making up : penanganan kain yang telah selesaii proses untuk dilakukan pengemasan
Ender : Tempat melarutkan lilin berbentuk bejana datar dengan lebar + 40 cm
Scaray : Bak penampung kain
Playter : Pengatur lipatan kain
Hooking : Lipatan kain bentuk buku
Kloyor : Proses pengerjaan kain untuk meningkatkan daya serap pada pembuatan batik
Merang : Jerami yang dibakar
Ngemplong : Meratakan permukaan kain
Klowongan : Kerangka motif

Dari buku sekolah

Persiapan Membuat Batik (PEMBATIKAN)


Persiapan kain mori untuk pembuatan batik terdiri atas berbagai macam pekerjaan, sehingga menjadi kain yang siap untuk dibatik. Pekerjaan tersebut meliputi :

- Memotong kain

Kain batik atau mori yang masih berbentuk gulungan dipotong–potong dengan ukuran sesuai panjang kain batik yang akan dibuat. Untuk membuat kain panjang untuk wanita (tapih) kain dipotong dengan ukuran 2,75 yard. Demikian pula untuk mori prima, tiap gulungan mempunyai ukuran panjang 48 yard (43 m) dan lebar ± 105 cm, biasanya dipotong menjadi 19 (ukuran batik normal) atau menjadi 20 (ukuran batik sedang). Ukuran yang lain digunakan sebagai batik selendang, ikat kepala, sarung, hiasan dinding dan sebagainya. Selesai dipotong-potong, setiap ujung kain diberi lipatan kecil dan dijahit (diplipit), dengan maksud, agar benang–benang yang paling tepi tidak lepas (berjerabai).


- Nggirah (mencuci) atau ngetel
- Nganji (menganji)
- Ngemplong (seterika, kalander)


Pencapan Rol (Roller Printing) -Bahan Tekstil



Mesin pencapan rol diciptakan pada tahun 1785 oleh Thomas Bell. Penciptaan mesin ini sangat penting dalam perkembangan industri tekstil khususnya industri tekstil bidang pencapan. Pencapan rol adalah pencapan kontinyu, mesin pencapan ini menggunakan rol cetak beralur yang dipahat/diukur/digrafir pada permukaannya sesuai dengan pola. Rol cetak membawa pasta cap yang disuplaikan oleh rol penyuap dan selanjutnya pasta cap dipindahkan pada kain yang dicap, metoda pencapan rol dapat dilihat pada gambar di sebelah.


(A) Silinder utama, silinder ini dilapisi oleh kain tebal yang disebut lapping (B) lapping ini bentuknya bantalan dan akan menahan kain ketika kain dicap/diwarnai. Silinder utama berputar selama pencapan berlangsung dankain dicap melalui bagian ini.(H) adalah bak berisi pasta zat warna penyuplai rol cetak. (F) rol cetak (G) rol penyuap (Furnishing roller), rol ini bisa dibuat dari rol kayu yang dilapisi kain atau rol sikat, bagian bawah rol penyuap dicelupkan pada pasta cap dan pada saat berputar akan membawa pasta cap yang akan menyuplai rol cetak. Rol penyuap bersinggungan dengan rol beralur dan pada saat yang bersamaan pasta cap mewarnai seluruh permukaan rol cetak, pasta cap pada permukaan rol cetak selanjutnya dihilangkan dengan pisau baja yang disebut dengan colour doctor (J) bagian yang beralur harus terisi pasta sedangkan bagian rol yang rata harus bersih dari pasta cap.
Kain yang akan dicap diletakkan dibelakang mesin biasanya dalam bentuk rol ataupun lipatan, kain berjalan secara terus menerus melewati diantara rol pencapan dan blanket (c), blanket terbuat dari wol asli, tetapi sekarang blanket terbuat dari campuran poliester kapas yang anti air. Blanket pada dasarnya digunakan untuk menahan tekanan rol pencapan, blanket tidak berujung dan terus menerus berputar untuk menghilangkan dan mengeringkan tempat pencapan Kain pengantar/Back grey (D) diletakkan di antara kain yang dicap dengan blanket, kain pengantar berfungsi untuk menyerap kelebihan pasta cap dan menghindari terjadinya migrasi zat warna keluar motif. Kain pengantar juga membantu meningkatkan kestabilan kain yang dicap selama proses pencapan berlangsung terutama kain tipis dan kain sintetis.Jika kain pengantar/back grey akan dicuci sebelum digunakan kembali harus dilepaskan dari mesin dan dikeringkan, untuk pencapan kain secara kontinyu mesin dilengkapi ruang pengering pada bagian atas mesin, kain setelah dicap melewati unit silinder pengering atau ruang udara panas.
Setelah rol cetak mentrasfer pasta zat warna pada kain, kemudian rol tersebut dibersihkan oleh pisau pembersih dari kuningan yang disebut Doctor lint (K) tujuannya adalah untuk menghilangkan kotoran baik berupa potongan benang atau serat yang menempel pada permukaan rol agar benang maupun serat tidak bercampur dengan pasta zat warna, bila hal ini terjadi dimana benang atau serat bercampur dengan pasta cap menyebabkan terjadinya goresan-goresan warna pada kain yang tidak diinginkan,juga untuk mencegah penodaan warna oleh serat atau benang yang menempel pada permukaan rol cetak.
Pada mesin pencapan rol multi warna, rol cetak letaknya mengelilingi rol utama kedudukannya diatur sedemikian rupa sehingga pasta cap yang dicapkan pada kain tepat pada pola yang seharusnya dicapkan dan menghasilkan kombinasinya warna yang sempurna. Susunan skema mesin multi warna yang lengkap dengan blanket tak berujung, pencuci blanket dan pengering kain ditunjukan pada gambar berikut.


Disalin dari Buku Sekolah


Teknik Pencapan pada Kain

Pencapan adalah suatu proses pemberian warna pada kain secara tidak merata sesuai dengan motif yang telah ditentukan dan hasilnya memiliki ketahanan luntur warna. Untuk mencapai hasil pencapan yang baik pada proses pencapan dibutuhkan kondisi yang spesifik, peralatan khusus dan desain yang sempurna, desain memiliki nilai seni yang tinggi dan biasanya diciptakan sebagai hasil karya seni.

Teknik pencapan intinya merupakan cara pemindahan desain dengan suatu peralatan tertentu yang diharapkan dapat menjamin mutu dan kualitas hasil pencapan.
Pada pencapan dapat digunakan bermacam-macam warna dan golongan zat warna dalam satu kain dan tidak saling mempengaruhi. Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam proses pencapan adalah sebagai berikut.



1. Pencapan blok (Block Printing)

Cetakan terbuat dari kayu atau logam tembaga dengan bagian motif yang menonjol. Zat warna dituang ataupun dipoles pada bantalan, selanjutnya alat cetak ditekankan pada bantalan yang sudah mengandung zat warna, kemudian dicapkan kepermukaan kain yang telah dipasang di atas meja cap. Jalannya kain dan alat cetak dilakukan secara manual oleh tangan.
Pencapan blok (Block Printing) peralatannya sangat simpel dan sederhana, cara ini sudah sejak lama dipergunakan, Pencapan blok sangat tidak efisien, tidak bisa untuk motif halus dan lembut, memerlukan biaya yang mahal, produksinya rendah + 10 m per jam, sehingga cara ini jarang dipergunakan. Pada industri batik pencapan blok banyak dilakukan, perbedaannya bukan pasta zat cap yang dicapkan pada kain tetapi lilin dicapkan pada kain, peralatan pencapan blok yang digunakan biasa disebut canting cap.


2. Pencapan semprot (Spray Printing)

Pencapan semprot banyak dilakukan untuk desain kasar terutama untuk mencap bahan – bahan yang terbuat dari kayu, logam, karung goni ataupun dari kain seperti untuk pembuatan spanduk. Cetakan terbuat dari kertas karton, lempengan logam, plastik, kayu, dan kasa/screen, gambar dibuat pada kertas kemudian dipindahkan pada lempengan logam, plastik, kayu, ataupun kertas karton menggunakan kertas karbon, selanjutnya bahan – bahan tersebut dilubangi dengan cutter sesuai dengan gambar.
Cetakan yang telah berlubang diletakkan di atas bahan yang akan dicap kemudian larutan zat warna / cat disemprotkan pada bahan melalui lubang alat cetak menggunakan alat semprot (Spray), bisa juga digunakan sikat untuk menyebarkan zat warna.

3. Pencapan rol (Roller Printing)
4. Pencapan kasa (Screen printing)
5. Pencapan kasa putar (Rotary screen printing)

Latihan dalam mengenal Pencelupan dan Pencapan pada bahan tekstil dan pencapan



Latihan dalam teori Pencelupan:
1. Mengidentifikasi serat tekstil
2. Mengidentifikasi benang tekstil
3. Mengidentifikasi zat warna direk, asam, dan basa pada bahan selulosa
4. Mengidentifikasi zat warna bejana, belerang, bejana belerang dan oksidasi pada bahan selulosa
5. Mengidentifikasi zat warna direk iring logam, direk iring formaldehid, naftol, azo yang tidak larut, zat warna yang diazotasi pada bahan selulosa
6. Mengidentifikasikan zat warna pigmen dan reaktif pada bahan selulosa
7. Mengidentifikasikan zat warna direk, asam, basa, komplek logam dan zat warna chrom pada bahan poliamida
8. Mengidentifikasikan zat warna bejana, dispersi, komplek logam, dispersi reaktif dan naftol pada bahan poliamida
9. Mengidentifikasikan zatwarna dispersi, kation, bejana,  pigmen dan zat warna yang dibangkitkan
10. Mengidentifikasikan zat warna direk, asam, basa, bejana, naftol,  reaktif, komplek logam, komplek lagam terdispersi dan mordam chrom
11. Mengidentifikasikan zat warna bubuk
12. Mengidentifikasikan zat pembantu tekstil “Zat Aktif Permukaan “

Praktek Pencelupan pada bahan tekstil dan pencapan:
1. Melakukan penghilangan kanji pada kai metoda Pad Batch menggunakan mesin Pad Rol
2. Melakukan pembakaran bulu pada kain menggunakan mesin bakar bulu konvensional
3. Melakukan pembakaran bulu pada kain metode simultan dengan penghilangan kanji menggunakan mesin bakar bulu
4. Melakukan pembakaran bulu pada kain menggunakan mesin bakar bulu konvensional
5. Melakukan pembakaran bulupada kain metode simultan dengan penghilangan kanji menggunakan mesin bakar bulu
6. Melakukan pemasakan benang atau kain menggunakan kier ketel
7. Melakukan pengelantangan kain metoda Pad Batch
8. Melakukan proses pengelantangan metoda kontinyu
9. Melakukan pemantapan panas (Heat Set) pada kain menggunakan mesin stenter
10. Melakukan pemerseran pada kain menggunakan mesin Chain Merserizing
11. Melakukan pemerseran padakain menggunakan mesin chainless merserizing
12. Melakukan proses Weigth Reduce metode diskontinyu (Batch) menggunakan mesin alkali tank
13. Melakukan proses Weigth reduce kain metode kontinyu menggunakan mesin J – Box / L - box
14. Melakukan pencelupan benang secara manual menggunakan bak celup
15. Melakukan pencelupan benang hank menggunakan mesin Celup Hank
16. Melakukan pencelupan benang dengan zat warna indigo metoda kontinyu menggunakan mesin Rope Dyeing
17. Melakukan pencelupan benang dengan zat warna indigo metoda kontinyu menggunakan mesin Loptex
18. Melakukan pencelupan kain metoda HT/HP menggunakan mesin Beam
19. Melakukan pencelupan kain metoda HT/HP menggunakan mesin Celup Jet
20. Melakukan pencelupan kain metoda HT/HP menggunakan mesin Package 21. Melakukan pencelupan benang metoda HT/HP menggunakan mesin Cone Dyeing.
22. Melakukan pencelupan kain menggunakan mesin Jigger
23. Melakukan pencelupan kain menggunakan mesin Winch
24. Mencuci kain menggunakan mesin washing range
25. Melakukan impregnasi kain menggunakan mesin Pad Dryer
26. Melakukan fiksasi pencelupan kain metoda alkali shock menggunakan mesin Alkali Shock
27. Melakukan fiksasi pencelupan kain metoda steaming menggunakan mesin Pad Steamer
28. Melakukan fiksasi pencelupan kain metoda batching menggunakan mesin Pad Roll
29. Melakukan fiksasi pencelupan kain metoda baking menggunakan mesin Pad Bake
30. Melakukan fiksasi metoda thermofiksasi menggunakan  mesin thermofiksasi (Baking atau Thermosol atau Curing)
31. Melakukan fiksasi dengan metoda steaming menggunakan mesin steamer alkali shock

Praktek dari teori Pencapan bahan tekstil:
1. Melakukan penimbangan zat warna dan zat pembantu
2. Pembuatan mask film menggunakan mesin afdruk
3. Melakukan penyiapan rotary screen Menyiapkan operasi proses penyiapan rotary screen
4. Melakukan pembuatan flat screen secara manual
5. Melakukan pembuatan flat screen menggunakan mesin stretching
6. Melakukan Coating pada flat screen secara manual
7. Melakukan coating pada rotary screen menggunakan mesin coating
8. Melakukan pemindahan gambar pada flat screen secara manual
9. Melakukan pemindahan gambar pada flat screen menggunakan alat exsposure
10. Melakukan pemindahan gambar pada rotary screen
11. Melakukan pemindahan gambar pada rotary screen Cam Wax Jet
12. Melakukan retusir dan hardening
13. Melakukan pembuatan pengental
14. Melakukan pembuatan pasta cap
15. Melakukan pencapan sablon
16. Melakukan fiksasi hasil printing metoda air hanging
17. Melakukan fiksasi hasil printing metoda steaming menggunakan mesin flash ageing
18. Melakukan fiksasi hasil printing metoda thermofiksasi menggunakan mesin Thermofiksasi (baking, thermosol, curing)
19. Melakukan fiksasi hasil printing metoda pad batch menggunakan mesin pad rol
20. Melakukan fiksasi hasil printing metoda steaming
21. Melakukan fiksasi hasil printing metoda HT steaming
22. Melakukan fiksasi hasil printing metoda pressure steaming
23. Melakukan fiksasi hasil printing metode wet development
24. Mencuci kain menggunakan mesin washing range

Pencelupan pada bahan tekstil (serat, benang, dan kain)




Pencelupan adalah proses pemberian pada bahan tekstil baik serat, benang, dan kain dengan zat warna tertentu yang sesuai dengan jenis bahan yang dicelup dan hasilnya mempunyai sifat ketahanan luntur warna.
Pencapan adalalah proses pemberian warna pada kain secara tidak merata sesuai dengan motif yang telah ditentukan menggunakan zat warna sesuai dengan kain yang dicap dan hasilnya mempunyai sifat ketahanan luntur warna terhadap pencucian.
Baik proses pencelupan maupun pencelupan selalu didahului dengan proses persiapan yang sama meliputi pembakaran bulu, penghilangan kanji, pemasakan, pengelantangan, dan merserisasi. Zat warna untuk pencelupan dan pencapan penggunaannya sama, perbedaannya terletak pada sistem pemberiaan warna dan teknologi yang digunakan.
Teknologi pencelupan dan pencapan merupakan teknik dan cara-cara yang digunakan untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas mutu hasil produksi pencelupan dan pencapan.


1. Persiapan proses pencelupan dan pencapan yaitu proses-proses yang dilakukan terhadap kain sebelum dilakukan proses basah baik untuk bahan kapas maupun bahan dari serat sintetik meliputi penumpukan kain,pemberian kode, penyambungan kain, relling,relaxing.
2. Proses persiapan pencelupan dan pencapan: proses pembakaran bulu, penghilangan kani, pemasakan,pengelantangan,merserisasi, dan proses persiapan untuk kain sintetik meliputi pengurangan berat, dan termofixztion (heat seating),
3. Pencelupaan: tentang jenis kain yang dicelup, zat warna yang digunakan, teknologi yang diterapkan dalam proses pencelupan.
4. Pencapan: persiapan pencapan, teknik pencapan, prosedur pencapan, persiapan gambar, pengental, pasta cap, proses pencapan dengan berbagai zat warna, pencapan pada bahan non tekstil, fiksasi, pencucian kain dan diakhiri dengan proses pembuatan batik.


Ikuti (Blog batik ini) Via EMAIL :