dari www.Suwur.com >> Dapatkan diskon langsung 10% untuk produk yang ready stok (klik disini), dan tambahan diskon 5% untuk reseller. (penawaran terbatas-)

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Tata Busana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tata Busana. Tampilkan semua postingan

Daya Serap dan kandungan uap air pada serat tekstil

Hampir semua serat dapat menyerap uap air sampai batas tertentu. Serat-serat yang dapat menyerap uap air lebih banyak digunakan. Serat yang higroskopis lebih enak dipakai. Serat yang sedikit menyerap uap air disebut hidrofob. Serat hidrofob dalam keadaan basah dan kering memiliki sifat yang sama, epat kering dan kecil mengkeretnya.
Kandungan uap air dalam serat tekstil dapat dinyatakan dalam:
- Moisture Content ( MC ) yaitu prosentase kandungan air terhadap serat dalam kondisi tertentu, dengan rumus:

MC = (Bn – Bk) / Bn x 100%


- Moisture Regain ( MR ) yaitu prosentase kandungan air terhadap berat
kering mutlak, dengan rumus:

MR = (Bn – Bk) / Bk x 100%


Dimana
Bn = berat nyata serat dalam suatu kondisi
Bk = berat kering mutlak serat


Tabel Kandungan Uap Air pada Serat Tekstil

Serat
Kandungan Air (%)
Wol
Rayon Vikosa
Sutera
Kapas
Flax
Asetat
Nilon
Poliester (Dakron)
Rayon (biasa)
Gelas
Orlon
Acrilan
15
11
11
8
12
6
4,5
0,4
13
0,0
1,5
1,5


Sifat – Sifat Kimia Serat tekstil

Proses-proses penyempurnaan tekstil banyak sekali menggunakan zat-zat kimia, baik berupa oksidator, reduktor, asam, basa, atau lainnya. Karena itu ketahanan terhadap banyak zat kimia pada serat tekstil merupakan suatu syarat yang penting. Ketahanan terhadap zat kimia atau kereaktifan kimia pada setiap jenis serat tergantung pada struktur kimia dan adanya gugus – gugus aktif pada molekul serat. Pelarut –pelarut untuk pencucian kimia, keringat, sabun, detergen, zat pengelantangan, gas dalam udara, cahaya matahari menyebabkan kerusakan secara kimia kepada hampir semua zat tekstil. Sifat kimia serat kapas: tahan terhadap penyimpanan, pengolahan dan pemakaian yang normal, kekuatan menurun oleh zat penghidrolisa karena terjadi hidro-selulosa mempunyai efek kilap, karena proses mersirasi, serat mudah diserang oleh jamur dan bakteri terutama dalam keadaan lembab dan pada suhu yang hangat.
Sifat kimia serat wol: tahan terhadap jamu dan bakteri tetapi bila wol telah rusak oleh zat kimia terutama alkali pada pH 8, wol mudah diserang serangga dan jamur yaitu kekuatan turun.
Sifat kimia serat sutera: tidak mudah rusak oleh larutan asam encer hangat, tapi larut dengan cepat didalam asam kuat. Sutera mudah diserang oleh oksidator, tahan terhadap jamur, serangga,dan bakteri. Pemanasan yang lama dalam air menyebabkan kilau dan kekuatan berkurang.
Sifat kimia rayon viskosa cepat rusak oleh asam, kekuatan berkurang oleh jamur. Paling sesuai diputihkan dengan natrium hipoklorit dalam suasana netrl. Sifat kimia nylon tahan terhadap pelarut – pelarut dalam pencucian kering. Tahan terhadap asam encer, tahan terhadap basa.
Sifat kimia poliester tahan asam, basa lemah tetapi kurang tahan basa basa kuat, tahan zat oksidator, alkohol, sabun, dan zat untuk pencucian kering. Tahan terhadap jamur, serangga dan bakteri.

Polimer Ditinjau dari segi kimia, serat tekstil tersusun dari molekul – molekul yang sangat besar. Polimer adalah molekul yang sangat besar yang tersusun dari ulangan unit – unit kimia kecil (monomer) yang sederhana. Serat tumbuh – tumbuhan seperti kaps, jute, rami, dan sebagainya tersusun atas molekul – molekul selulosa yang merupakan pengulangan sisa glukosa ( C6H12O6 ). Serat rayon adalah serat yang dibuat dengan cara regenarasi polimer – polimer selulosa yang diperoleh dari kayu atau sisa – sisa kapas pendek ( inters ), sedangkan serat buatan seperti poliester dan nylon tidak dibuat dari polimer alam, tetapi polimer yang dibuat dari senyawa kimia kecil dan sederhana yang dibuat monomer. Unit - unit kimia yang diulang dalam suatu polimer memiliki bentuk yang sama atau hampir sama dengan monomernya.
Pengulangan unit – unit tersebut dapat membentuk polimer linier, bercabang, atau jaringan.

Umpama :
Senyawa kimia asal ( monomer ) adalah A, unit yang berulang A’ dimana A’ hampir sama dengan A.
Maka:
Polimer Linier : - A’ - A’ - A’ - A’ - A’-
Polimer Cabang : -A’ – A’ – A’ – A’
A’
Polimer jaringan : -A’ – A’ –
A’ A’
A’


Bentuk Penampang Serat
Bentuk penampang lintang serat sangat bermacam – macam ada yang berbentuk bulat, lonjong, bergerigi, segitiga, pipih dan sebagainya. Untuk jenis yang sama, serat alam mempunyai penampang lintang yang sangat bervariasi, sedangkan serat – serat buatan untuk untuk jenis yang sama pada umumnya sama. Makin bulat penampang lintangnya, makin baik kilaunya dan makin lemas pegangannya, tetapi makin rendah daya penutupnya karena makin banyak ruang udara.

Mulur dan Elastisitas serta tekstil

Elastisitas adalah kemampuan serat untuk kembali kebentuk semula setelah mengalami tarikan. Mulur adalah pertambahan panjang setelah mengalami tarikan. Serat tekstil biasanya memiliki elastisitas dan mulur saat putus minimal 10 %. Kain yang dibuat dari serat yang memiliki elastisitas baik biasanya stabilitas dimensinya baik dan tahan kusut. Serat buatan dapat diatur derajat mulur dan elastisitasnya sewaktu pembuatan serat.

Tabel  Mulur Saat Putus Serat-Serat Tekstil

Serat
Mulur %
Kapas
Flex
Wol
Sutera
Rayon
Asetat
Nylon
Dacron
Gelas
Orlon
Acrilan
6,7
2
25 – 35
20
9 – 12
25
16 – 28
25 – 36
2
20 – 28
35

IDENTIFIKASI Serat dan Dasar–Dasar Serat Tekstil

Serat tekstil adalah suatu benda yang memiliki perbandingan antara panjang dan diameter sangat besar. Serat dapat digunakan sebagai serat tekstil harus memenuhi persyaratan diantaranya adalah panjang, fleksbilitas, dan kekuatan.
Serat tekstil merupakan bahan dasar pembuatan benang dengan cara dipintal, benang yang telah jadi kemudian ditenun menjadi kain dengan cara menganyam benang lusi dan pakan. Benang lusi adalah benang yang terletak kearah panjang kain , benang pakan adalah benang yang terletak kearah lebar kain.
Setelah menjadi kain masih banyak pekerjaan lain yang dilakukan terhadap kain tersebut untuk memperbaiki kualitas dan daya guna dari kain tersebut seperti diputihkan, dicelup, dicap, dan finishing. Pekerjaan ini disebut dengan penyempurnaan tekstil. Kadang – kadang penyemurnaan tekstil juga dilakukan pada benang.

Penggolongan Serat
Serat tekstil digolongkan atas serat alam dan serat buatan klasifikasi serat tekstil

Sifat Fisika Serat
1. Panjang Serat
Panjang serat yang digunakan untuk bahan tekstil lebih besar seribu kali dari diameternya. Perbandingan yang sangat besar memberikan sifat fleksibilitas (mudah dirubah bentuknya) sehingga memungkinkan untuk dapat dipintal.
Panjang serat ini juga menentukan nomor dan kehalusan benang yang dikendaki.
Pada umumnya bentuk panjang serat dapat dibedakan dalam ;
- stapel
- filamen
- tow,
- monofil
Stapel
Adalah serat-serat yang panjangnya hanya beberapa inchi ( 1 inchi = 2,54 cm ).
Serat alam pada umumnya panjangnya berbentuk stapel. Serat buatan diproduksi dalam bentuk stapel dengan cara memotong filamen menjadi stapel yang panjangnya 1 – 6 inchi.


Filamen
Adalah serat – serat yang sangat panjang ,misalnya serat sutera. Serat buatan mula-mula dibuat dalam bentuk filmen.
Tow
Adalah multi filamen yang terdiri dari puluhan atau ratusan ribu filamen dalam bentuk berkas seperti silver, kadang-kadang dengan antihan sedikit.
Monofil
Adalah monofilamen artinya satu filamen. Benang monofilamen adalah benang yang terdiri dari satu helai filamen.

2. Kekuatan Serat
3. Mulur dan Elastisitas serta tekstil
4. Daya Serap dan kandungan uap air pada serat tekstil


Proses Persiapan Pencelupan dan Pencapan

Yaitu semua proses baik kimia maupun mekanik yang dilakukan terhadap bahan tekstil baik yang terbuat dari serat alam maupun buatan sebelum mengalami proses pencelupan, pencapan maupun penyempurnaan, dengan tujuan agar proses-proses tersebut dapat berjalan dengan lancar dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
Bahan tekstil mentah umumnya mengandung zat bukan serat dan kotoran. Zat bukan serat dan kotoran–kotoran tersebut dapat di klasifikasikan sebagai  berikut.

Kotoran alamiah
Yaitu kotoran yang timbul bersamaan dengan proses pertumbuhan serat yang berupa lemak, malam, lilin, pektin pada kapas; serisin pada sutera; keringat, lemak, lanolin pada wol dan sebagainya.

Kotoran dari luar
Yaitu kotoran yang berasal dari luar dan menempel pada kain, benang, kain atau serat seperti debu, potongan–potongan daun, ranting, noda-noda minyak yang berasal dari mesin dan lain sebagainya.

Kotoran yang sengaja ditambahkan
Yaitu kotoran yang sengaja ditambahkan untuk kelancaran proses misalnya minyak untuk zat anti statik pada benang, kanji pada benang lusi dan lain-lain.
Zat-zat ini dapat mengganggu proses selanjutnya yang akan dialami bahan tekstil tersebut, karena zat-zat ini akan menghambat masuknya zat kimia termasuk zat warna ke dalam serat. Oleh karena itu zat-zat tersebut harus dihilangkan. Berdasarkan jenis–jenis kotoran tersebut maka untuk menghilangkannya perlu dilakukan proses–proses yang meliputi pembakaran bulu, penghilangan kanji dan pemasakan. Serat–serat sintetik memiliki tingkat kemurnian yang tinggi dan tidak mengandung kotoran alamiah seperti pada  serat alam, karena umumnya sudah dibuat dalam keadaan bersih, proses persiapan umumnya dilakukan untuk menghilangkan kotoran-kotoran dari luar yang didapat dalam transportasi misalnya minyak pelumas, kanji, zat anti statik dan lain-lain. Proses yang penting pada serat buatan selain rayon viskosa adalah proses pemantapan panas (heat setting) yang dilakukan dengan cara peregangan pada suhu tinggi untuk mendapatkan stabilitas dimensi yang baik dan proses pengurangan berat.


Prosses Pengelantangan, Merserisasi, Pencelupan, Pencapan, dan Membatik



1.5. Pengelantangan
Pengelantangan adalah menghilangkan warna alami yang terdapat pada bahan tekstil. Pembahasan pada proses pengelantangan meliputi jenis zat pengelantang, pemilihan zat pengelantang, proses pengelantangan, pemeriksaan larutan pengelantang, pemeriksaan hasil, penentuan konsentrasi larutan, penentuan kandungan alkali, pemutih optik dan perhitungan penyerapan larutan.
1.6. Merserisasi
Merserisasi dilakukan sebelum proses pencelupan dan pencapan adalah untuk menambah penyerapan bahan terhadap zat warna, menambah kilau. Dalam proses merserisasi dibahas tentang tujuan, parameter proses merserisasi, proses merserisasi dan proses daur ulang soda kostik.

1.7. Pencelupan
Pencelupan adalah proses pemberian warna secara merata pada bahan tekstil baik berupa serat, benang maupun kain. Pemberian warna tersebut dilakukan dengan berbagai cara, bergantung pada jenis serat, zat warna dan mesin yang digunakan.
Zat warna tekstil masing–masing mempunyai sifat–sifat tertentu, baik sifat tahan luntur maupun dalam cara pemakaiannya.
Dalam buku ini dibahas tentang jenis–jenis zat warna, klasifikasi zat warna, pemilihan zat warna untuk pencelupan, mekanisme proses pencelupan dan proses pencelupan dengan berbagai zat warna.

1.8. Pencapan
Pencapan adalah proses pemberian warna setempat sesuai desain/motif yang telah ditentukan. Dalam proses pencapan dibahas tentang ruang lingkup dan tahapan–tahapan dalam proses pencapan yang meliputi :
1.8.1. Teknik pencapan yaitu spray printing, block printing, pencapan rol, flat screen printing, rotary screen printing dan metoda pencapan.
1.8.2. Pembuatan pola/desain/gambar, pembuatan motif pada kasa datar (flat screen), kasa putar (rotary screen) dan engraving.
1.8.3. Pembuatan pengental dibahas tentang persyaratan pengental, jenis pengental dan cara pembuatan pengental.
1.8.4. Pembuatan pasta cap, dibahas tentang persiapan larutan zat warna, persiapan pasta pengental dan viskositas pasta cap.
1.8.5. Pencapan pada bahan tekstil yang dibahas pada bagian ini adalah tentang proses pencapan secara langsung maupun tidak langsung pada berbagai jenis serat maupun zat warna.

Pencapan langsung meliputi pencapan pada bahan kapas dengan zat warna direk, asam, reaktif, bejana, bejana larut, naphtol dan pigmen. Pembahasan pencapan tidak langsung adalah pencapan rusak yaitu pencapan yang dilakukan dengan cara merusak warna dasar sedangkan pencapan rintang adalah pencapan dengan zat perintang untuk menghalangi penyerapan zat warna masuk pada bahan. Selain dibahas tentang pencapan pada bahan kapas dibahas pula tentang pencapan pada serat protein dan serat sintetik dan serat campuran.

1.8.6. Fiksasi hasil pencapan
Fiksasi hasil pencapan dibahas tentang berbagai metoda fiksasi yang meliputi fiksasi hasil pencapan metoda pengangin-anginan (air hanging), pengukusan (steaming), thermofiksasi dan metoda wet development.

1.8.7. Pencucian kain hasil pencapan
Pencucian hasil pencapan dibahas tentang pencucian dengan menggunakan mesin washing range. Selain dibahas pencapan pada

1.9. Membatik
Batik merupakan proses pembuatan disaian menggunakan zat perintang berupa malam/lilin dengan nilai seni yang tinggi dengan cara ditulis menggunakan canting atau kuas selanjutnya diberi warna. Pada proses ini dibahas peralatan batik, cara pelekatan malam/lilin, pemberian warna, jenis – jenis zat warna yang dapat digunakan.

1.10. Pengujian Hasil Pencelupan dan Pencapan
Pengujian hasil pencelupan dan pencapan merupakan bagian dari tahapan produksi proses pencelupan dan pencapan untuk mengetahui keberhasilan dalam proses tersebut.
Pengujian hasil meliputi proses pengujian daya serap kain, pengujian kekuatan kain, dan grading kain.


TEKNOLOGI PENCELUPAN DAN PENCAPAN


Teknologi Pencelupan dan Pencapan adalah suatu cara penyempurnaan bahan tekstil untuk meningkatkan mutu dan daya guna bahan tekstil. Teknologi Pencelupan dan Pencapan merupakan teknik pemberian warna pada bahan tekstil. Dilihat dari tujuannya terdapat perbedaan antara pencelupan dan pencapan. Pencelupan memberi warna pada bahan tekstil secara merata dan menyeluruh sedangkan pencapan tujuannya memberi warna pada bahan secara setempat sesuai dengan desain/motif yang telah ditentukan. Pada proses pencapan dapat digunakan beberapa jenis zat warna secara simultan.
Hasil pencapan memilki nilai seni karena desain yang dibuat merupakan hasil karya seni. Berbagai jenis zat warna dapat digunakan untuk mewarnai bahan tekstil baik pada proses pencelupan maupun pencapan, pemilihan zat warna yang digunakan didasarkan pada tujuan dan jenis serat yang diwarnai.
Pengolahan bahan tekstil baik untuk proses pencelupan maupun proses pencapan meliputi tahap–tahap proses :

  • Identifikasi Serat, Benang, dan Zat Warna
  • Persiapan Proses Pencelupan dan Pencapan
  • Persiapan Proses Pencelupan dan Pencapan Kain Sintetik
  • Proses Persiapan Pencelupan dan Pencapan
  • Pengelantangan
  • Merserisasi
  • Pencelupan
  • Pencapan
  • Batik
  • Pengujian Hasil Pencelupan dan Pencapan

Desain Baju dan Tipe Target Fashion


 

Setiap produk Setiap Desain baju memiliki tipe fashion masing-masing, berikut ini jenis desain baju dan tipe fashion yang bisa kami rangkum.


Desain baju yang beredar dipasaran dunia meliputi :
1. Baju Casual Wanita 
2. Baju Pesta Wanita
3. Baju Casual Pria
4. Baju Pesta Pria 
5. Baju Anak
6. Baju Remaja
7. Baju Luaran (Jaket/Coat/Bolero)
8. Baju Olahraga

Sedangkan beberapa desain baju diatas sangat pas untuk tipe fashion atau tipe target pasar seperti berikut ini :
1. Baju Casual Wanita : Haute couture, ready-to-wear, mass market
2. Baju Pesta Wanita : Haute couture, ready-to-wear, mass market
3. Baju Casual Pria : Tailoring, ready-to-wear, mass market
4. Baju Pesta Pria : Tailoring, ready-to-wear, mass market
5. Baju Anak : Ready-to-wear, mass market
6. Baju Remaja : Ready-to-wear, mass market
7. Baju Luaran (Jaket/Coat/Bolero) : Ready-to-wear, mass market
8. Baju Olahraga : Ready-to-wear, mass market

Keterangan tipe fashion atau tipe target market sebagai berikut :
1. Haute couture
Tipe Fashion didominasi, dirancang dan diproduksi pada ukuran yang dibuat khusus atau haute couture (bahasa Perancis untuk fashion tinggi), dengan pakaian masing-masing diciptakan untuk klien tertentu. Sebuah garmen couture dibuat berdasarkan pesanan untuk pelanggan individu, dan biasanya terbuat dari bahan yang berkualitas tinggi, kain mahal, dijahit dengan perhatian yang ekstrim terhadap detail dan menyelesaikan, sering menggunakan waktu yang lebih lama, dibuat handmade dan dengan teknik tinggi. Konsumen dapat merasa cocok menjadi prioritas di atas biaya material dan waktu yang dibutuhkan untuk membuat


2. Ready-to-wear :
Tipe Fashion Ready to wear adalah tipe yang berada antara haute couture dan pasar massal. Mereka tidak dibuat untuk pelanggan individu, tetapi perawatan besar diambil dalam pilihan dan memotong kain. Pakaian yang dibuat dalam jumlah kecil untuk menjamin eksklusivitas, sehingga mereka agak mahal. Siap-pakai koleksi biasanya disajikan oleh rumah mode setiap musim selama periode yang dikenal sebagai Fashion Week. Ini terjadi pada basis kota besar dan terjadi dua kali setahun. Musim utama Fashion Week meliputi, musim semi / musim panas, musim gugur / musim dingin, resor, berenang dan pengantin.


3. Mass market
Pasar massal melayani untuk berbagai macam pelanggan, memproduksi ditetapkan siap dengan nama yang terkenal di dunia fashion. Mereka sering menunggu musim untuk memastikan gaya akan menangkap sebelum memproduksi versi mereka sendiri dari tampilan aslinya. Dalam rangka untuk menghemat uang dan waktu, mereka menggunakan kain lebih murah dan teknik produksi sederhana yang dengan mudah dapat dilakukan oleh mesin. Produk akhir sehingga dapat dijual jauh lebih murah.


4. Tailoring
Penjahit melayani untuk beberapa konsumen yang ingin kualitas baju dan jahitan sesuai keinginan dan ukurannya diluar standart. Jadi Penjahit memberikan pelayanan ekstra untuk konsumen yang memerlukan baju dengan ukuran khusus, kain khusus, dan tambahan aksen-aksen baru yang menurun konsumen pas dipakai.

Dirangkum oleh Ayuna Kusuma

Desain Baju


Berikut prinsip-prinsip desain baju (busana) disalin dari Mode OkRek.
Untuk dapat menciptakan desain yang lebih baik dan menarik perlu diketahui tentangprinsip-prinsip desain. Adapun prinsip-prinsip desain yaitu :
1. Harmoni
Harmoni adalah prinsip desain yang menimbulkan kesan adanya kesatuan melalui pemilihan dan susunan objek atau ide atau adanya keselarasan dan kesan kesesuaian antara bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam suatu benda, atau antara benda yang satu dengan benda lain yang dipadukan. Dalam suatu bentuk, harmoni dapat dicapai melalui kesesuaian setiap unsur yang membentuknya.
2. Proporsi
Proporsi adalah perbandingan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain yang dipadukan. Untuk mendapatkan suatu susunan yang menarik perlu diketahui bagaimana cara menciptakan hubungan jarak yang tepat atau membandingkan ukuran objek yang satu dengan objek yang dipadukan secara proporsional.
3. Balance
Balance atau keseimbangan adalah hubungan yang menyenangkan antar bagian-bagian dalam suatu desain sehingga menghasilkan susunanyang menarik. Keseimbangan ada 2 yaitu :
a. Keseimbangan simetris atau formal maksudnya yaitu sama antara bagian kiri dan kanan serta mempunyai daya tarik yang sama.
Keseimbangan ini dapat memberikan rasa tenang, rapi, agung dan abadi.
b. Keseimbangan asimetris atau informal yaitu keseimbangan yang diciptakan dengan cara menyusun beberapa objek yang tidak serupa tapi mempunyai jumlah perhatian yang sama. Objek ini dapat diletakkan pada jarak yang berbeda dari pusat perhatian.
Keseimbangan ini lebih halus dan lembut serta menghasilkan variasi yang lebih banyak dalam susunannya.
4. Irama
Irama dalam desain dapat dirasakan melalui mata. Irama dapat menimbulkan kesan gerak gemulai yang menyambung dari bagian yang satu ke bagian yang lain pada suatu benda, sehingga akan membawa pandangan mata berpindah-pindah dari suatu bagian ke bagian lainnya. Akan tetapi tidak semua pergerakan akan menimbulkan irama.
Irama dapat diciptakan melalui :
a. Pengulangan bentuk secara teratur
b. Perubahan atau peralihan ukuran
c. Melalui pancaran atau radiasi
5. Aksen/center of interest
Aksen merupakan pusat perhatian yang pertama kali membawa mata pada sesuatu yang penting dalam suaturancangan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menempatkan aksen :
a. Apa yang akan di jadikan aksen
b. Bagaimana menciptakan aksen
c. Berapa banyak aksen yang dibutuhkan
d. Dimana aksen ditempatkan
6. Unity
Unity atau kesatuan merupakan sesuatu yang memberikan kesan adanya keterpaduan tiap unsurnya. Hal ini tergantung pada bagiamana suatu bagian menunjang bagian yang lain secara selaras sehingga terlihat seperti sebuah benda yang utuh tidak terpisah-pisah. Misalnya leher berbentuk bulat diberi krah yang berbentuk bulat pula dan begitu juga sebaliknya.

Cara Mudah Mengukur Badan untuk Membuat Baju (menjahit pakaian / busana)


Ada dua cara mudah mengukur badan untuk membuat baju atasan atau dress panjang.
1. Dengan mengukur badan langsung.
2. Mengukur baju yang sudah jadi yang pas di badanAbaya Putri Nawa
Biasanya kita menggunakan satuan centimeter (cm)
1. Cara Mengukur Badan langsung.
Lebih mudah, kita minta bantuan teman untuk mengukur badan kita. Menggunakan meteran fleksibel seperti yang biasa dipakai penjahit. Jika hanya ada penggaris, kita bisa menggunakan tali dan panjangnya diukur dengan penggaris atau meteran biasa.
a. Lingkar Dada
___Meteran kita lingkarkan sekeliling badan melalui buah dada diukur pas lalu + 4cm
b. Lebar Punggung / Pundak
___Diukur dari batas tengah kerung lengan kiri sampai kanan
c. Lingkar Pinggang
___Diukur sekeliling pinggang +2cm
d. Lebar Bahu
___Diukur dari lekuk leher sampai pada ujung bahu
e. Lingkar Kerung Lengan
___Diukur sekeliling kerung lengan dari bawah ketiak lalu diselakan atau dimasukkan dua jari
f. Panjang Lengan Pendek
___Diukur dari ujung bahu sampai siku untuk lengan pedek, sampai panjang yang dikehendaki untuk lengan panjang.
g. Panjang baju
___Diukur dari ujung bahu/pundak sampai panjang baju yang dikehendaki
2. Mengukur Baju
Untuk lebih mudah mengukur sendiri, paling mudah menggunakan baju kita yang sudah ada yang paling pas di badan kita.
Coba salah satu baju yang paling nyaman dipakai, dilepas, lalu di gelar di lantai.
Siapkan meteran, atau dengan penggaris biasa juga bisa, jika menggunakan cara ini.
a. PUNDAK. ukur dari ujung pundak ke ujung pundak satunya. Jika dikehendaki lingkar leher tertentu (tidak standar), tambahkan panjang dari sambungan jahitan di krah sampai ujung pundak.
b. PANJANG TANGAN. ukur panjang tangan, dari ujung pundak, sampai panjang yang dikehendaki (bisa ditambah atau dikurangi dari contoh bajunya)
c. LEBAR DADA. lebar dada diukur pas sambungan dibawah ketiak
diukur lebarnya saja, (dikalikan dua juga bisa untuk mengetahui lingkarnya.
d. LEBAR PINGGANG. jika di bagian pinggang ukurannya beda, diukur juga. Akan lebih kecil dari dada untuk yang langsing.
Jika perutnya besar, lebih besar dari panggul atau dada, maka dibuat sama antara lebar pinggang dengan lebar dada atau pinggul.
e. LEBAR PANGGUL. ukur lebar bagian panggul, atau lebar ujung baju model atasan (blus, kemeja, dll)
f. PANJANG BAJU. Panjang baju diukur dari sambungan jahitan di krah (leher) atau bagian pundak, sampai panjang yang dikehendaki, bisa pas, dikurangi, atau ditambah.
g. Bagian lain yang perlu diukur jika diinginkan adalah lebar tangan. Diukur pada ujung tangan, dan jika diinginkan beda dari standar, pangkal lengan juga bisa diberi ukuran.
Jika ada yang perlu ditambahkan, mohon tulis komentar di bawah.


Ikuti (Blog batik ini) Via EMAIL :